Tampilkan postingan dengan label Folding Bike. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Folding Bike. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 April 2014

Wisata Adrenaline di Cikole Bike Park

Wuss, dua sepeda melompat tepat diatas kepala, aku menunduk kaget melihat sepeda yang beterbangan seperti ayam di tengah hutan yang sunyi seperti ini. Ternyata tempat ini adalah track latihan sepeda downhill, pantas pemandangan seperti ini dianggap lazim bagi orang sekitar, terletak di tengah hutan lindung yang termasuk kawasan wisata Tangkuban Perahu dan Jalur pendakian Jayagiri di Lembang, wilayah Utara Bandung, kota selingkuhan yang cantik, untuk yang mulai bosan dengan keanggunan Bandung, dan disini Folding Bike Traveler edisi kedua dimulai.

Bandung, kota yang kini sedang ada dibawah lampu panggung, sedang tenar-tenarnya dengan berbagai inovasi dan gebrakannya dalam mengelola kota, mungkin tidak lepas dari jasa sang Walikota yang baru, Ridwan Kamil, kota ini disulap menjadi kota festival, dimana semua taman dihias, didandani dan dinamakan sesuai dengan wilayah atau ciri khasnya masing-masing, ada Taman Musik, Taman Sepeda, Taman Vanda, bahkan yang paling nyentrik, Taman Jomblo, Bandung kini, seperti seorang gadis muda yang sedang jatuh cinta dan gemar-gemarnya mencoba berbagai make up, untuk membuat dirinya semakin cantik. Tidak jauh dari kota cantik itu, Lembang, sahabat dekat bandung juga tidak kalah menariknya, terletak di sebelah Utara kota Bandung, sedikit menanjak dan melewati curamnya patahan Lembang, kota ini sering menjadi pelarian saat masa liburan, baik oleh wisatawan dari luar kota, ataupun wisatawan dalam kota Bandung yang penat karena kotanya sendiri dipadati wisatawan dari berbagai daerah.

Perjalanan dari Bandung ke Lembang memakan waktu sekitar satu jam, terhitung cepat karena tidak melewati jalan raya Lembang, alih-alih bermacet-macetan disana kami memilih jalur alternatif Dago bengkok, dan daerah ini tidak mengecewakan, kiri dan kanan dihiasi oleh bukit-bukit hijau yang rimbun dan sejuk, benar-benar udara yang menyenangkan, hingga tak terasa kami sampai di pintu masuk jalur menuju cikole, sebenarnya ini jalur alternatif keluar Tangkuban Perahu, namun ditutup dan dialih fungsikan menjadi Bike Park.

Tiket masuk ke wilayah ini sebesar Rp. 10.000 untuk seharian penuh dihitung per sepeda yang dibawa masuk kedalam kawasan, kawasannya asri dan jalannya baru di aspal, cukup nyaman untuk dilewati, namun sayang jalan aspalnya hanya sampai garis finish track, untuk menuju garis start di puncak bukit, harus melewati jalan bebatuan yang rusak. Total ada tiga Track dengan tingkat kesulitan obstacle dan panjang lintasan yang berbeda-beda, mulai dari pemula hingga track yang biasa digunakan atlet, selain itu, tempat rekreasi ini juga dilengkapi pondok, mushola dan kamar kecil untuk yang membawa serta keluarganya berwisata.


Jadi untuk yang suka bersepeda atau ingin mencoba sensasi bermain sepeda downhill bisa mencoba track di Cikole Bike Park ini, untuk yang pemula dan awam soal sepeda, tidak perlu khawatir karena selain menawarakan track downhill, cikole bike park juga terintegrasi dengan track-track sepeda yang lebih landai dan dapat dinikmati oleh keluarga, seperti, track Jayagiri 1, track Jayagiri 2, track Jayagiri 3, track Gunung Putri, track Jurasic Park, track Boscha, semuanya merupakan track bersepeda dengan pemandangan alam yang indah dan terkenal di daerah Bandung-Lembang. Mau diantar dan dipandu sekalian? Hubungi saya saja. :D

Photo by:
anak-anak @GBITB
Faddin khaeruman
Paulus Sidabalok
Yudha hamdi Arzi



Perjalanan ke daerah Cikole
Iron Horse Pinjaman
Salah satu Track
Loading menuju garis start, sepeda ditumpuk
Menembus Ilalang
Lompatan Whip
Sepeda 27 Inch
Gap yang cukup tinggi
Tempat Beristirahat di garis finish
Anak-anak GB-ITB

Loading dari Bandung ke Lembang

Senin, 14 April 2014

Pempek Sejarah Paling Enak di Jakarta

Dua minggu yang lalu folding bike traveler sedang bersepeda menjelajahi ibu kota Jakarta, Kota yang kesibukannya tidak pernah berhenti, untuk yang berencana bertraveling ke Jakarta atau memang tinggal di Jakarta, ada yang pernah dengar nama Megaria atau Metropole 21? Ya, bioskop tua yang menjadi saksi sejarah Batavia lama, juga tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa untuk membentuk pergerakan aksi pada jamannya, sebelumnya beberapa tahun silam Bioskop Megaria ini sempat dikabarkan akan dijual dan dirobohkan, namun untungnya tidak jadi terlaksana, semenjak berpindah tangan ke 21 group, Bioskop Megaria akhirnya berganti nama menjadi Metropole 21, letaknya berada di Jl. Diponegoro, Senen, Jakarta Pusat tidak jauh dari St. Kereta Cikini, cukup dengan bersepeda sepuluh menit dari St. Kereta dan terminal Gambir, karena dengan kebijakan baru kereta, Commuter line tidak berhenti di St. Gambir sehingga untuk mencapai tempat ini lebih efisien dengan bersepeda atau kendaraan lain seperti ojek dan bajai.Gedung bioskop lama ini juga selain menyimpan cerita sejarah yang sangat panjang, juga menyembunyikan makanan enak yang perlu dicoba jika sedang bertandang ke Jakarta.


Namanya adalah Pempek megaria, pempek yang sudah ada sejak kakek dan nenek kita tinggal, tempat makan yang perjalanannya sama panjang dengan sejarah Bioskop Megaria itu sendiri. Apa yang terbersit di pikiranku saat pertama kali mendengar kata Pempek Megaria? Sebuah tempat, dengan ruangan yang berwarna putih tua, dan lantai berporselen coklat, serta tempat duduk kayu klasik dengan kipas-kipas besar yang berputar pelan di atasnya, lengkap dengan pelayan yang bergaya eighties, sungguh tempat bernostalgia yang menyenangkan. Namun, waktu yang telah berjalan juga ternyata banyak merubah tepat makan pempek yang kabarnya paling enak di Jakarta ini, sekilas tempat makan ini sekarang sama seperti layaknya Foodcourt atau tempat makan di sekitaran Bioskop, dengan pendingin udara dan kaca-kaca besar, tempat ini sekarang dibuat agar lebih dapat memanjakan penikmatnya, pada siang hari saat aku berkunjung ruangannnya cukup ramai dan hampir semua meja penuh, beruntung dapat dua kursi yang tepat menghadap ke jendela.

Pempek disini harganya berkisar antara Rp.10.000 – Rp.50.000 per porsinya, banyak macam pempek yang dijual disini mulai dari kapal selam, kulit, adaan, dan masih banyak lagi. selain pempek, ada juga bakmie Megaria dan rujak yang dijual di counter tepat di sebelahnya yang dapat disandingkan sebagai teman makan pempek. yang membuat pempek disini enak adalah adonan pempek, taburan udang dan kuahnya, itu semuanya enak, kuah asamnya tidak begitu menyengat dan terasa ramah di lidah, pempeknya sendiri wangi dan tidak begitu asin dengan besar pempek yang pas, asinnya diimbangi oleh taburan udang kecil diatas pempeknya, satu porsi yang berisi dua hingga tiga pempek cukup untuk membuat perut kenyang selama pertunjukan bioskop, pempek Megaria ini buka dari Senin sampai Minggu: 10:00 sampai 22:00 WIB, biasanya penuh pada saat jam istirahat makan siang dan makan malam.


Jadi jika sedang berjalan-jalan atau berwisata ke Jakarta, jangan lupa coba pempek megaria ini, tempatnya nyaman dan cukup mudah dijangkau, dengan bersepeda sepuluh menit dari stasiun Gambir kita bisa merasakan berkunjung ke gedung Bioskop bersejarah dan makan Pempek terenak di Jakarta. Selama dua hari di jakarta, selain pempek Megaria juga masih banyak wisata kuliner dan sejarah yang dapat dinikmati, next post mari membahas tentang sesuatu yang dingin dan enak untuk Jakarta yang panas, Es krim yang juga bersejarah dan terkenal dengan Spagheti Ice creamnya: Ragusa.


Photo by: adiitoo.com

Kamis, 27 Maret 2014

Folding Bicycle Traveler: Jakarta day 1


“Bu, di Jakarta juga ada wisata”, ujarku random. Ibuku mengernyitkan dahi hingga membuat dua garis yang hampir sejajar berimpitan.

“Selain mall dan waterpark yang sudah banyak?”, timpalnya dengan nada yang sedikit rendah, menandakan ragu.

“Ya.”, ucapku singkat sambil menarik risleting Windbreaker dan beranjak pergi. Jakarta juga seharusnya punya budaya yang menyenangkan untuk diselami. Gumamku dengan nada yang sama rendahnya karena Sedikit ragu. 22-23 Maret 2014, dua hari ini adalah perjalanan pertama untuk dikumpulkan dan dirangkai menjadi petualangan yang lebih besar suatu saat nanti. Aku memulai perjalanan dari sisi sebelah selatan Kota Jakarta, tempat para pekerja ibu kota melabuhkan sangkarnya usai lelah mencari makan, Jaraknya sembilan belas kilo meter jauh dari pusat kota. Angin mengalir mendung sepanjang perjalanan hari pertama. Jalanan di Jakarta tampaknya memang selalu penuh dengan sesuatu, entah itu tujuan atau sekedar kebut-kebutan. Jalan di Jakarta selalu penuh oleh alasan.

Taman Mini Indonesia Indah

Destinasi pertama di hari yang pertama adalah TMII, Taman Mini Indonesia Indah. Taman kebanggaan ibu kota yang dibuat seperti hiasan bola air yang dikocok menyembulkan salju. Berlokasi di Jakarta Selatan yang berdekatan dengan Terminal Bus Kampung Rambutan. Wonderland yang kelihatan sempurna, ucapku saat mulai melintasi kubah keong mas yang berfungsi sebagai teater. Tempat yang cukup bagus dan sarat pengetahuan, gumamku. Di kejauhan terlihat gerombolan anak-anak TK yang berbaris lucu mengikuti induknya. Seperti bebek di pematang sawah dengan wek-wekan kecil penuh rasa ingin tahu sembari menenteng botol minum yang lucu berwarna biru muda atau merah ke-ungu-an dengan bunga-bunga putih. Di TMII banyak sekali museum atau tempat-tempat untuk belajar sesuatu. Ada museum tentang listrik, iptek, perbintangan, kubah kupu-kupu dan rumah adat dari berbagai budaya di Indonesia. Mungkin jika dikelaskan, TMII adalah tempat wisata dengan ilmu pengetahuan sebagai daya tarik utamanya, akan menyenangkan membawa anak-anak kecil yang masih cerewet untuk bertanya bagaimana proses listrik terjadi, atau kenapa bumi itu bundar, Para orang tua dapat menjadi pahlawan yang serba tahu untuk anaknya. Oleh karena itu, sebuah keheranan muncul saat melihat sepasang kekasih bergenggaman tangan dan berjalan saling berdempet, berbincang dengan muka hampir saling menyentuh. Berusaha berpikir positif, mungkin kedua sejoli ini ingin belajar lebih banyak tentang bintang-bintang yang menaungi cinta mereka. Maka aku meninggalkan bebek-bebek kecil dan burung sejoli itu dalam kerlingnya hiasan bola air yang dikocok menyembulkan salju. Aku bergerak pergi lebih ke Barat, memunggungi matahari dan meninggalkan Wonderland yang kelihatan sempurna itu. Sudah cukup siang untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.

Kampung Betawi Setu Babakan

Selesai untuk TMII, pikirku. Terlalu ribet untuk membawa sepeda mengunjungi anjungan per anjungan satu-satu, Juga daftar hadir anjungan per anjungan satu-satu. Aku menghela nafas dan melakukan shifting sepeda ke gigi yang lebih rendah, baru saja keluar pintu masuk TMII, jalanan yang tadi pagi sedikit lengang sudah kembali penuh. Nampaknya aku harus mulai membiasakan diri dengan  Jalanan di Jakarta yang selalu penuh oleh alasan. Masih berada di sekitar Jakarta Selatan, destinasi kedua aku akan mengunjungi Setu Babakan, yang katanya merupakan kampung asli Suku Betawi yang sebenarnya suku asli kota Ex-Batavia ini. Yang mengherankan, tempat ini bisa dibilang terpencil. Terlewatkan oleh tol dan hanya menjadi jalur alternatif dari kemacetan arah Depok menuju Jakarta.

Mungkin jika tidak ada bisikan yang memberitahuku bahwa di situ terdapat suku asli, akupun akan melewatkan tempat ini. Lokasinya cukup  jauh dari akses jalan besar, juga sangat sedikit rambu arah menuju tempat wisata ini. Jalannya kecil namun rapi tapi tetap penuh. Jika jeli, mungkin akan ada beberapa marka jalan yang menyebutkan nama Setu Babakan. Letaknya hampir di tengah-tengah perkampungan warga. Baiklah, namanya memang Perkampungan Warga Betawi. Di kejauhan tampak gerbang yang menjadi pertanda selamat datang,  ternyata aku berada di tempat yang benar. Setu babakan ini, seperti layaknya tempat wisata, memiliki atraksi utama dan display-display kerajinan hasil rakyatnya. Yang menjadi perhatian utama di tempat wisata ini adalah bebek. Perahu berbentuk bebek, maksudnya. Banyak keluarga-keluarga yang berpiknik di pinggir danau, memperhatikan anak-anaknya main, atau bercengkerama air bersama di tengah danau dalam perahu bebek yang lucu. Tempat yang cocok untuk menghilangkan kepenatan ibu kota, berada di tempat yang belum terlalu terkenal dan belum banyak diketahui orang. Cukup sepi dan nyaman untuk hitungan wisata yang letaknya di tengah ibu kota.

Orkes Universitas Indonesia

Mendekati sore cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat, agak murung nampaknya. Destinasi selanjutnya hari ini adalah segenggam tiket Musikampus Orkes Simfoni Universitas Indonesia yang sedang berlangsung hari itu. Letak Kampus Universitas Indonesia benar-benar di margin ujung Jakarta Selatan, berhimpitan dengan gerbang selamat datang kota Depok. Sebagian wilayah kampus ini masih termasuk Jakarta Selatan dan sebagian sudah termasuk Depok. Benar-benar sisi batas Selatan kota. Hesti, kawan lamaku yang memberikan tiket ini memberitahukanku untuk datang tepat waktu jam tiga. Namun, entah terlalu patuh atau memang jadwal perjalanan yang acak-acakan. Jam satu aku sudah menyelesaikan dua destinasi dan tak tahu hendak kemana.

Aku suka musik klasik yang dibawakan kembali. Musik klasik, layaknya lukisan memiliki pengartian berbeda, tergantung bagaimana dan apa cara pandang yang digunakan untuk mendengar musik tersebut.  Nampaknya ini konser pre event kecil yang menjadi pembuka konser yang lebih besar nanti, belum banyak yang datang jam tiga tepat, barisan penonton belum begitu penuh. Padahal ruangan audionya sendiri sudah kecil. Aku bersyukur mendengar bahwa tiket yang dijual sold out.  Sayang karena mereka yang terlambat melewatkan beberapa aransemen musik yang bagus. Menurutku musik-musik ini tidak terlalu banyak terpapar publik jika dibandingkan musik-musik modern, atau mungkin publik yang belum dapat menikmati musik klasik seperti cara mereka menikmati musik yang lebih easy listening. Beberapa bulan ke depan OSUI Mahawaditra ini akan bertandang menuju Australia. Aku berharap mereka dapat tetap membawa pesan musik klasik hingga ke sana.

Tidak terlalu banyak yang dapat diceritakan pada hari pertamaku tiba di Jakarta.  Coretku di sebuah catatan kecil yang dapat diselipkan di saku celana. Aku menghabiskan sisa malam setelah konser dengan diam di sebuah kafe pinggiran Jakarta, menikmati orang yang hilir mudik menerjang kemacetan dari balik kaca, mendengarkan orang-orang membaca puisi dari komunitas pecinta puisi dan memesan satu gelas minuman cokelat hangat.  Jakarta sebagai kota metropolitan, menjalankan tugasnya dengan baik.


--